Menurut laporan “2025 Digital News Report” yang dirilis Reuters Institute for the Study of Journalism (RISJ), masyarakat Amerika Serikat kini lebih sering mengakses berita lewat media sosial daripada televisi. Survei terhadap hampir 100.000 responden di 48 negara menemukan bahwa 54 persen pengguna AS memilih media sosial dan jaringan video sebagai sumber utama informasi, sedangkan 50 persen masih mengandalkan TV.

Medsos Sebagai Berita
Dahulu Facebook dan YouTube mendominasi pangsa berita digital. Kini enam platform besar—Facebook, YouTube, Instagram, WhatsApp, X (Twitter), dan TikTok—mencatat jangkauan mingguan rata-rata 10 persen. TikTok menunjukkan pertumbuhan paling pesat: sepertiga responden memiliki akun, dan 17 persen menggunakannya untuk mencari berita. Di Thailand angkanya mencapai 49 persen, sementara di AS dan Eropa masing-masing 12 dan 11 persen.
Meski TikTok melejit, Facebook dan YouTube tetap jadi dua raksasa utama distribusi berita. Data RISJ juga mengungkap perbedaan preferensi konten di tiap negara: warga negara kaya seperti Norwegia, AS, Jerman, dan Inggris lebih menyukai teks, sedangkan india, Meksiko, dan Filipina cenderung memilih video.
Generasi muda berusia 18–24 tahun jauh lebih menyukai berita audio-visual dibandingkan generasi yang lebih tua. Di AS sendiri, penonton berita video mingguan naik signifikan dari 55 persen pada 2021 menjadi 72 persen pada 2025.
Survei juga mencatat hanya 18 persen responden di 20 pasar langganan berita digital utama yang membayar akses dalam setahun terakhir. Meski angka ini terus meningkat selama satu dekade terakhir, minat membayar berita online masih relatif rendah.
RISJ menilai kreator media sosial berhasil menjangkau kelompok yang selama ini kurang terlayani oleh media tradisional, seperti pemirsa laki-laki muda, pengguna dengan kecenderungan politik konservatif, dan mereka yang menganggap media mainstream bias. Tren serupa juga muncul di Inggris, Perancis, Amerika Latin, Afrika, hingga beberapa negara Asia, kecuali Jepang dan Denmark yang masih mengandalkan TV sebagai sumber utama berita.
Peralihan ke medsos sebagai berita menegaskan kebutuhan penerbit untuk beradaptasi dengan format baru. Penerbit perlu memperkuat konten video, podcast, dan artikel interaktif agar tetap relevan. Bagi pembaca, keberagaman platform membuka kesempatan memilih cara konsumsi yang paling nyaman, baik lewat smartphone, komputer, maupun smart TV.
Ke depan, inovasi seperti realitas tertambah (AR), realitas virtual (VR), dan konten interaktif audio mungkin akan jadi tren baru dalam penyajian berita digital. Penerapan teknologi ini dapat membawa pengalaman mengonsumsi berita ke level berbeda, jauh melebihi penyiaran massal tradisional.
Tetap update tren terbaru di dunia news digital dengan mengunjungi jokerlaptop.id/blog . Temukan artikel informatif lain yang membantu Anda memahami dinamika konsumsi berita modern.
Sumber: Kompas.com



